My Little Life

5:05 PM

Nama      : Suci Rahmawati Ramadhan
Kelas     : XI MIA 2
Study     : Bahasa Indonesia


MY LITTLE LIFE
Ini adalah kisahku. Sekelumit cerita dalam hidupku.  Cerita bahkan yang tidak aku ingat seluruhnya . Awal mula aku menjadi seorang Gamer dan bifurkasi yang aku alami.
Aku lahir di sebuah keluarga yang biasa-biasa saja. Ibu selalu mengajarkan aku tentang agama semenjak aku kecil. Sedangkan ayahku selalu mengajarkan agar aku tidak bergantung kepada orang lain. Mandiri dan disiplin. Sejak kecil aku jarang di luar rumah. Apa ya namanya? Soliter? Kurang lebih. Dengan jarang bergaul dengan orang lain, otomatis aku susah mendapatkan teman yang bisa membantuku, dan itu yang membuatku terbiasa mengerjakan banyak hal sendirian.
Aku besar bersama kakakku. Kami punya banyak persamaan, tapi juga perbedaan yang luar biasa berkebalikan satu sama lain. Aku anak yang patuh. Kakakku tidak. Aku jarang bermain. Kakakku tidak pernah betah di rumah.
Waktu berlalu. Masuk TK-lulus-masuk SD-lulus- dan masa SMP di mulai. Ini sih salah satu hal yang gak bisa aku lupakan dalam hidupku. Ketemu sama Arini, duduk satu bangku, ke mana-mana bareng. Dulu kuper banget sama yang namanya komputer. Sampe akhirnya kita mutusin pergi ke warnet bareng, cuma untuk bisa megang komputer. Kita sih cuma tau dari LKS waktu pelajaran TIK. Tapi jangan salah, gini-gini kita bisa ngetik di Microsoft Word (dulu masih pake Ms. Word 2003). Inget banget waktu itu kita bikin tulisan, FRIEND FOREVER. Haha. Nama dia aku tulis pake font color warna biru sedangkan namaku warna merah. Haha. Kita print tuh tulisan. Sampe sekarang masih ada. Sekadar bukti sejarah sewaktu pertama kali pegang komputer. I miss that moment. Ini dia awalnya. Ini juga awal masa di mana aku mulai ga betah di rumah. Netsick jika sehari aja ga sentuh mouse.
Sepulang sekolah kita biasanya pergi ke warnet, bikin e-mail, buka facebook, cari tau cara copy file dari pc ke memory card, bikin printscreen. Dan aku mulai memperhatikan aktifitas pengguna warnet di samping dan belakangku. Kayaknya seru tuh. Pada main tembak-tembakan, dan kalo berhasil nembak kepala musuh bakal ada backsound “headshot! Triple kill! Double kill! Fire in the hall! Mission succes!”. Haha. Di waktu selanjutnya aku baru tau nama gamenya Point Blank. Pernah coba main, bikin username tapi akhirnya kepalaku pusing sendiri. Ga tahan lihat gambar yang gerak-gerak menuhin layar.
Tapi Arini ga terlalu suka main game. Jadinya kalo ke warnet sendiri. Cari game, dan dapet mainan monopoli. Modoo Marble. Awalnya sih ga ngerti, tapi lama kelamaan enjoy juga. Pernah waktu ada event spesial lebaran main terus sampe menang dua puluh kali, dan dapet diamond key. Dulu mah kalo mau diamond key harus beli, harganya 2000 NC (itu seharga dua puluh ribu rupiah). Karena hemat uang, makanya ga pernah beli NC. Terus coba game lain. Kali ini game di facebook. Namanya Criminal Case. Permainan untuk mengolah ketajaman mata melihat objek dan pelajaran analisis untuk mengetahui pembunuhnya. Juga permainan kesabaran karena harus menunggu hasil forensik sampai 18 jam.
Sekarang beralih ke masa SMA. Akhir tahun pelajaran 2013 ayah kasih aku sebuah laptop plus modem plus printer. Awalnya sih ga nyaman karena kecepatan koneksi internet modem ga secepat wifi. Tapi mau ga mau. Dua bulan awalnya pulsa modem masih lancar. Tapi lama kelamaan jarang isi pulsa karena ga dikasih budget. Artinya harus libur dari game online. Ga bertahan lama. Game bagaikan candu. Ga bisa berpisah lama. It’s time to move! Game offline menanti.
Dimulai dari game sederhana bawaan komputer. Kayak Spider Solitaire. Ikut organisasi Latech, otak atik komputer dan dapet satu folder full game. Hehe. Juga ketemu sesama gamer dan dikasih alamat untuk download game offline. Yeah! Makin lama makin banyak relasi. Dikasih YGO Offline, Spore, CoD, terus install game Warcraft dan Counter Strike dari DVD game warnet. Otak atik internet dari warnet, daftar dan dikirimin satu set DVD game Heroes of Newerth. Sayangnya game yang ini ga bisa di install karena spesifikasi minimal RAM 3 giga dan seenggaknya pake prosesor AMD. Gile sia. Upgradenya sampe jutaan tuh.
Sekarang pencarian jati diri, game mana yang cocok. Bukan adventure ternyata. Tapi yang berhubungan dengan brain dan kecepatan mata serta stategi plus keberuntungan. Dari yang awal cuma untuk hibuan jadi sebuah visi misi untuk menamatkan satu game sampai bener-bener tamat. It’s so hard to do. Plant’s and Zombie aja harus pake Cheat Engine, padahal game ini terbilang mudah. Apalagi lawannya bukan orang lain, kita cuma lawan program komputer sendiri.  
And then, aku ketemu satu warnet yang bener-bener luar biasa. Akar Net. Kecepatan pc yang dua kali lebih cepat dari komputer warnet biasa dan kecepatan wifi yang sekarang udah mencapai 7 mbps. AMAZING! Sekarang udah punya rutinitas. Pertama log in pc, langsung install IDM dan download film. Jadi sekalian main game sekalian nunggu download list rampung. Ini bener-bener sebuah rutinitas. Yang namanya flashdisk gak bisa pisah dari tangan.
Dan kemudian, masuk kelas XI. Awalnya aku kira semua rutinitasku bisa dijalankan seperti biasa. Rencana yang aku susun supaya sudah naik ke level 400 CC dalam dua tahun. Ternyata? Salah besar! Tugas di mana-mana. Bukan masalah sih untuk aku. Sesuatu mulai jadi masalah saat banyak ikut kegiatan yang mebuat aku tidak bisa mengikiti KBM dan tugas mulai menggunung. Ini yang bener-bener hampir ga bisa ditoleransi. Saya kan manusia bukan robot yang full time bisa kerja. Dan akhirnya, beberapa rutinitas mulai acak-acakan. Pulang sekolah ikut ekskul, jam 4 sore pulang. Sampe rumah sholat, makan, beres-beres rumah. Malem kerjain tugas sampai larut dan ketiduran. Matahari bangun, time to school. Kalo boleh jujur, saya hampir gila. Hampir sih. Mikirin tugas seabrek. Sering lupa kalo belum makan. Dan NETSICK!
Aku sadar sekarang. Sebelumnya aku selalu beranggapan semua rutinitasku udah bener-bener rapih. Tapi saat chaos datang menghantui order seperti bayang-bayang, sebuah bifurkasi terjadi. Gesekan antara setiap hal, amplifikasi dahsyat yang mengguncang setiap sistem yang tersusun rapi. Dan hal ini yang meledakkan otakku. Membuat aku berpikir ulang. Untuk mencegah aku terkena stress akut. Berpikir bahwa yang ada hanyalah ada, dan kita hanya menjalaninya tanpa membuatnya jadi berharga. Hanya menjalani, itu yang membuat aku masih bertahan sampai sekarang. Hanya menjalani, tanpa tahu apa targetnya. Yang aku tahu, I owned every second that this world can give. Memberikan yang terbaik tanpa mengharap apapun. Because the best plan is no plan. Aku mengerti dari pengalaman, saat kenyataan tidak sesuai dengan rencana, kamu harus mulai belajar bahwa segala sesuatunya selalu berjalan tanpa perlu rencana dan yang kita temui di depan tanpa disangka adalah suatu kejutan kecil yang membuat hidup ini berharga.

=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=

Note: saya tidak tau kenapa saya menulis ini. Saya Cuma menulis. Menggabungkan partikel-partikel kecil yang berserakan di benak menjadi untaian kalimat. Saya sadar ini hampir tidak bisa masuk kategori cerpen, karena isinya yang ‘urakan’. Jika Yang Terhormat kurang berkenan dengan isinya, mohom dimaklumi, saya bukan potongan cerpenis.