Assassin's Creed Unity - Sebuah Celotehan Ringan

7:59 PM

Yah, saya adalah penggemar serial Opa Bowden satu ini – penggemar berat, malah. Saya menyukai game dan filmnya; dan benar-benar menyukai novelnya. Buku-buku sebelumnya sarat dengan pembunuhan (yang ngga sadis-sadis amat), tapi tidak membuat saya mual. Tidak seperti di novel-novel horror yang (seringnya) membuat saya ingin muntah. Bagaimanapun, pembunuhan bukanlah sesuatu yang patut 'dibanggakan'. Tapi saya tetep sukaaaaaaaaa.

Membaca terjemahan novel Assassin's Creed Unity yang baru saja rilis Januari 2017 kemarin, membuat saya – mau tak mau – flashback ke pelajaran sejarah saya mengenai Revolusi Prancis. Jika di buku sejarah dijelaskan gambaran umum mengenai revolusi Prancis (yang secara tidak langsung ikut berperan dalam perkembangan berbagai negara, anyway); novel ini memberikan gambaran yang lebih mendetail. Fyi, saya baru menamatkan film Les Miserables kemarin malam; dan setidaknya saya benar-benar bersyukur tidak dilahirkan di jaman tersebut. Harus saya akui, era di mana kita hidup sekarang lebih bermartabat – sekaligus lebih menyeramkan. Jika di jaman mereka, tinggal bunuh orang yang bersangkutan dan selesai; well, sekarang (seperti yang dibilang ayah), "ngga kayak gitu lagi".

Ada Elise de La Serre, gadis cantik yang jago berpedang; Arno Dorian, yah, silahkan baca novelnya untuk tau siapa dia – saya tidak mau disumpahi karena dituduh spoiler; terus Mr. Weatherall (yang suka banget pake kata 'banget'). Nah, Mr. Weatherall – mau tak mau – ini membuat saya teringat Severus Snape, tapi dengan kondisi yang lebih 'ekstrim'. Lalu ada Papa Edward Kenway (omegot) yang sempet disebut-sebut dalam novel ini dan bikin histeris. (Iya, si bajak laut sekaligus Assassin, dan ya, saya ngefans banget sama beliau! Saya inget salah satu soal di ujian SBMPTN saya, yang pertanyaannya kurang lebih gini, "Siapa pelaut yang pertama kali menemukan Amerika?" Dan tebak. Edward Kenway masuk ke dalam pilihannya! Astaga. Haha. Saya tentu pilih jawaban itu, karena ngga tau jawaban yang lain. Di waktu selanjutnya saya tau kalo yang nemuin Amerika adalah Christopher Columbus. Hadeh. I beg your pardon.)

Membaca buku ini berhasil memompa adrenalin, seakan saya sungguhan terlibat dalam pertarungan di dalamnya. Benar-benar perasaan yang menyenangkan. Kita juga diajak untuk mengingat kembali kehidupan masyarakat di Prancis sebelum revolusi, kehidupan kaum bangsawan pada masa itu, dan betapa gembiranya saya saat Raja Louis XVI dipenggal. (Rasanya seperti menyelami sejarah kelam manusia agar bisa sampai pada masa kita saat ini. Tanpa mereka, jika kita kurang beruntung untuk dilahirkan di kalangan pejabat, mungkin nasib kita juga akan berakhir di selokan. See? Matahari pun bakal terbit sesudah badai).

Ada hal yang mengusik saat menamatkan novel ini. Perbedaan. Yang membuat saya bergidik ngeri adalah harga yang harus dibayar untuk menyatukan perbedaan. Assassin dan Templar, dua ordo kuno yang sama tuanya, dan ribuan nyawa yang hilang dalam perseteruan abadi kedua pihak. Maksudku, iya yang berseteru adalah pihak Assassin dan Templar, tapi, Demi Jenggot Merlin, kenapa pihak yang ngga ada sangkut pautnya malah jadi korban? Siapa yang ngga capek, coba? Ke kanan hilang tangan, ke kiri hilang kaki, di tengah-tengah sama saja cari mati.

Tapi di masa yang suram tersebut, kita diajarkan arti kesetiaan, arti perjuangan, arti cinta. Hal yang bisa mentransendensi segala macam perbedaan. Seperti di kehidupan kita, sahabat-sahabat terbaik selalu datang pada saat yang sulit, menemani kita menemukan tujuan hidup lagi. Dan saya sedih, my dear fellow. Akhir yang tak terduga, dan perjuangan yang bahkan belum selesai.

After all, terlepas dari ketikan yang tidak rapih dan pengulangan serta kehilangan kata yang sungguh mengganggu – oh, saya bener-bener berharap cetakan selanjutnya jauh lebih baik dari ini – buku ini berhasil membuat perasaan saya hampa. Hampa karena penyesalan, hampa karena kehilangan.

Biasanya, saya selalu memberikan rate lima bintang untuk novel-novel Assassin's Creed. Tapi, kali ini, yah, sedikit turun. Bukan dari segi cerita, sih. Lebih ke penerjemahan dan penulisan. Rate empat bintang untuk Unity ini ^­_^ (prokprok).

Eh, saya sebenernya selalu bertanya-tanya tentang novel ini. Apakah orang-orang seperti mereka diajarkan untuk mengatasi rasa takut, atau rasa kemanusiaannya mulai berkurang seiring perjalanan waktu? (Apasih ini).

Pokoknya, I can't wait for the next book!


RECOMMENDED