Pestisida, Rumput, dan Rantai Makanan
12:05 PM
Ini cerita
tentang pengalaman kecil saya tadi pagi. Sederhana. Saya bangun jam setengah
delapan pagi, dan matahari hari ini bersinar riang (selama dua hari terakhir,
setiap pagi selalu mendung, panas sedikit saat siang hari, dan kelabu pada sore
hati. Cuaca yang menentramkan untuk tidur siang). Sebenarnya, saya bukanlah seseorang
yang terbiasa bangun siang. Hanya saja, selama beberapa hari terakhir ini, saya
kesulitan tidur di atas jam 10 malam (sepertinya insomnia saya mulai kambuh).
Jadi, daripada berbaring sambil membelalakkan mata menunggu pagi, lebih baik
saya terjaga dan melakukan sesuatu. Jadi yang saya lakukan adalah membuka file-file
lama yang tersimpan dalam harddisk laptop dan mulai membaca untuk pertama
kalinya (serius, saat ini saya sedang di masa transisi ke semester dua, dan
halaman-halaman ini saya simpan ketika saya masih di bangku SMA. Setahun cukup
untuk membuat benda-benda berdebu, jika saja file ini berbentuk kertas). Kurang
lebih lima jam kemudian (sekitar pukul 3 dini hari), mata saya mulai lelah
menatap cahaya buram LCD. Laptop kembali dimatikan, dan saya kembali ke kamar
saya yang tenang. Entah kenapa, sebetik inspirasi menghinggapi pikiran, mendorong
saya untuk menulis suatu catatan (bukan catatan ini, tentunya).
So, goes on.
Hingga terdengar waktu adzan subuh. Setelah beribadah, saya memutuskan untuk tidur,
mengingat mata ini sudah benar-benar tidak bisa diajak berkompromi.
Dan, tada.
Saya bangun kePAGIan.
Astaga. Segera ke kamar mandi untuk membasuh muka, dan mulai mencuci baju (saya
tukang cuci baju di rumah) se-keluarga. Kebetulan, saya melihat ayah yang sedang
memanggul tanki pestisida. Dan sebelum saya benar-benar paham apa yang terjadi,
ayah mulai menyemprotkan cairan bening tersebut kearah rerumputan. Oh my God. Sadar,
saya mulai berbicara dengan nada yang agak 'keras' agar ayah saya menghentikan
perbuatannya. And he won't listen. Saya sedih, dan mulai menangis marah.
Well, mungkin
kamu yang sedang membaca curhatan ini akan berpikir sambil mengerutkan kening.
Segitunya kah? Nah, jawabannya ya dan tidak. Ya, karena memang segitunya, dan
tidak, karena ini bukan seperti yang kamu kira.
Ini bukan
hanya masalah rerumputan yang tumbuh liar di halaman rumah saya. Selama liburan
panjang semester ini, saya melakukan yang terbaik untuk mulai 'memangkas'
rumput yang ada. Hanya sejam atau dua jam perhari, sih. Tapi halaman saya luas,
dan ketika saya tiba di sisi halaman pojok, rerumputan mulai tumbuh lagi di
sisi halaman yang lain. Menyebalkan, memang. Tapi saya melakukan yang terbaik
yang saya bisa untuk menjaga kebersihan di halaman saya, dan tidak melakukan
apapun yang bisa mengurangi kesuburan tanah. Ini salah satu penyebab saya menangis.
Terlebih, ada bibit bunga yang saya biarkan tumbuh di halaman, agar, ketika
tanaman itu sudah cukup besar, saya bisa memindahkannya ke lahan sebenarnya
(bisa dianggap kayak persemaian bibit).
Namun, ketika
ayah saya tanpa pandang bulu membasmi tanaman-tanaman yang ada, saya sedih. Sedih,
sesedih-sedihnya. Dan saat itu, kalo boleh jujur, saya mengharapkan beliau mati
saja (sungguh, maafkan saya. Mungkin saya harus belajar untuk mengontrol
keingingan mengerikan saya). Bukan hanya masalah bunga saya yang mati. Bukan
hanya masalah kesuburan tanah yang terkikis dan lama-kelamaan gersang. Serius, ini
bukan cuma tentang itu.
Kalian tahu
bahwa DTT adalah bahan kimia yang bereaksi keras terhadap lingkungan? Nah,
ketika musim penghujan seperti saat ini, zat kimia tersebut tidak langsung masuk
ke dalam tumbuhan, karena terbawa air hujan. Zat kimia yang mengalir tersebut
pasti akan bermuara di suatu tempat, kan? Entah itu danau, rawa, ataupun laut.
Tapi apapun muaranya, zat kimia akan mengendap di muara tersebut, mencemari air,
dan membunuh spesies yang hidup di tempat tersebut. Dalam hal ini, adalah rawa.
Kecil sih. Ngga ada apa-apanya dibandingkan rawa-rawa di hutan Amazon (ya iyalah!
Suci ndableg). Dan ketika saya ke sana, saya merasakan kesedihan yang luar
biasa, melihat air di rawa tersebut berwarna kekuningan diendapi busa yang
berwarna senada. Ciri khas lingkungan yang tercemar. Dan bukan cuma itu. Ikan-ikan
kecil mengapung di atas lumpur, mati. Dan teratai yang berwarna kusam. Pertanda
mulai terganggunya ekosistem di alam.
Ini hanyalah
bagian kecil dari pencemaran yang lebih besar. Ini memang hal kecil, tapi
bukannya sesuatu yang besar selalu diawali oleh hal-hal kecil?
Kembali saya
memikirkan ekistensi murni spesies saya di muka bumi ini. Bukankah kami diturunkan
ke sini untuk menjaga alam dan isinya? Menjaga ekuilibrum bumi dalam keadaan
yang seimbang? Keadaan yang memungkinkan untuk berlangsungnya kehidupan? Saya
kecewa, kawan. Saya kecewa. Kecewa akan hal yang tidak bisa saya cegah, padahal
baru di tingkat keluarga. Saya kecewa karena tidak bisa melakukan sesuatu yang
cukup berarti bagi kehidupan. Saya mengutuki diri saya; mengutuki kepengecutan
saya, merutuki diri saya yang tak mampu melakukan apa-apa. Saya sedih, kawan.
Semoga kamu,
yang membaca tulisan ini, belum kehilangan kesadaranmu. Untuk peka pada
sekelilingmu. Untuk menemukan arti hadirmu bagi kehidupan.